Rabu, 19 Maret 2014

Bintang Berekor; 1400 Tahun Lalu Al-Quran Sudah Merincikan


“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (QS. Al-Mulk: 16-18).

DALAM susunan tata surya bumi tidak beraktivitas sendiri banyak susunan benda-benda planet yang juga berpendar dan bukan tidak mungkin bakal menabrak satu sama lain.

Dalam susunan tata surya bumi tidaklah beraktivitas sendiri, namun masih banyak lagi susunan benda-benda planet lainnya, dan bukan tidak mungkin bakal menabrak satu sama lain.

Jika terjadi tabrakan sebuah benda langit, maka hal itu dapat membuat pecahan dan serpihannya menyebar, dan jangan bayangkan serpihan- serpihan itu seperti debu, ukuran bisa sangat besar bahkan sampai berton-ton. Hujan meteor di Rusia pada Februari lalu misalnya.

Badan Antariksa Amerika Serikat mengatakan tak ada kaitan jatuhnya meteor itu dengan asteroid 2012 DA14 yang diprediksi akan melintasi Bumi.

Lalu dengan meteor atau bintang berekor yang jatuh ke bumi, sesungguhnya fenomena itu sudah jauh-jauh hari dirincikan al-quran, yakni 1400 tahun lalu!

Rasulullah Saw. bersabda, “Pada umat ini akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, HUJAN BATU, dan pengubahan rupa. Ada seorang dari kaum muslimin yang bertanya, kapankah peristiwa itu akan terjadi? Beliau menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal. (HR. Tirmidzi (2212) Al-Fitan dari hadits ‘Imran bin Hushain, Ibnu Majah (4060) Al-Fitan dari Sahl bin Sa’d, dan Thabrani dalam Mu’jamu ‘J-Kabfrdzn Mu’jamul-Ausath. Hadits ini shahih.)

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari ‘Abdullah, dengan redaksi, “Menjelang terjadinya Kiamat akan terjadi pengubahan rupa, penenggelaman bumi, dan hujan batu.” (HR. Ibnu Majah (4059) dalam Al-Fitan.)
Hujan meteor bahkan terjadi saban hari di pelbagai belahan bumi. Kepala Observatorium Bosscha, Taufik Hidayat, mengatakan, setiap harinya antara seratus sampai seribu ton meteor membombardir bumi, namun tidak sampai membahayakan manusia.

Karenanya para astronomi melakukan penelitian yang sangat aktif terhadap benda langit terutama kepada asteroid karena ukurannya yang cukup besar. “Jika ukurannya kecil tidak masalah karena akan habis ketika melewati atmosfer bumi, namun jika berukuran besar akan berbeda”, katanya.

Namun begitulah Al-Qur’an, kalam Allah yag diturunkan pada masa kerasulan nabi. Karena apakah mungkin Muhammad dari padang pasir arab yang terpencil dapat membuat buku tentang roket, orbit, astronomi, gas nebula seperti di atas. Apakah ini adalah karya dari seorang yang tidak bisa baca tulis. Sungguh… ini adalah firman Allah Swt. Firman terakhir bagi kita manusia modern yang mengangungkan iptek dan fakta ilmiah. Mukjizat terakhir sebelum kiamat.

Source : Islampos

Minggu, 09 Maret 2014

Bosan Jadi Baik

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

SAYA bosan menjadi orang baik!
Pernahkah Anda membatin atau bahkan mendeklarasikan pernyataan demikian? Saya pernah. Mungkin, saya bersembunyi di balik modus normalitas sebagai manusia biasa merasakan demikian. Terkadang, kebosanan muncul tanpa diundang. Dan bosan itu adalah kebosanan menjadi orang baik.
Gawat, memang, saya akui. Ada setidaknya dua hal yang menjadi konsekuensi sekaligus latar belakang yang membersamai hal ini. Pertama, kita merasa telah menjadi orang baik. Positifnya hal ini tentu ada. Hadir semangat dan kepercayaan dalam diri untuk menjadi orang baik. Negatifnya, perasaan sudah menjadi orang baik teradang akan menutup pintu perbaikan diri. Ada nuansa keangkuhan dalam diri yang menyeret pada perasaan keengganan untuk menerima saran perbaikan dari eksternal atau membiarkan hati menelusur untuk sendirinya memperbaiki dan memuhasabahi diri.
Kedua, term bosan menjadi orang baik bakal mengaruskan individu tersebut ke arah kontra dari status quo yang tengah dijalaninya. Itu berarti, ada rasa dalam diri menginginkan untuk keluar dari lajur kebaikan. Sebagai permisalan, orang yang terbiasa bahkan selalu berupaya jujur di lingkungan kerjanya. Suatu ketika, saking suck-nya dengan lalu lintas korupsi di tempat kerja yang lancar jaya, ia berbalik. Rasa sia-sia menjadi orang jujur, rasa kecewa lantaran hanya ia seorang diri yang jujur, atau rasa merugi yang terus menggelayuti akhirnya mengalahkan idealisme kejujuran yang telah lama dibangun. Hal ini bisa dan mungkin saja terjadi pada kita atau siapa saja.
Adalah kewajaran memang munculnya rasa bosan. Tidak hanya bosan dengan keadaan dan aktivitas yang kerap menjadi rutinitas. Bosan menjadi orang baik pun mungkin saja muncul, menyapa, hinggap, atau hanya lewat sekelebat.
Yang menjadi intinya adalah penyikapan dari rasa bosan tersebut. Sangat baik bila kita memiliki langkah atau hal preventif yang menghindarkan diri kita dari kebosanan tersebut. Salah satu yang terbersit dalam pemikiran saya yakni bergabung dalam komunitas kebaikan. Adalah sangat benar dan terbukti bahwa adanya komunitas kebaikan itu sangat berarti dan penting. Pertama, kita dilihat dari di mana kita berada. Lingkungan dan rekan bergaul kita menjadi cerminan terdekat diri kita. Kedua, adanya komunitas menjadi sarana penguat dan pengingat kita. Saling menasihati menjadi budaya yang semestinya menglir lancar dalam komunitas tersebut jika menghendaki langkah preventif terhadap rasa bosan menjadi orang baik tersebut.
Di samping langkah preventif, ada pula hal yang perlu kita jadikan sebagai sarana represif (pengobatan). Mengingati, menginsafi, dan mengevaluasi idealisme awal diri bisa menjadi awalan yang baik kala rasa bosan itu hinggap. Selain itu, kita juga dapat merenungi perjalanan hidup para maestro seperti para ulama, ilmuwan, sahabat Nabi atau bahkan Nabi sendiri dalam menjaga konsistensi menjadi orang baik.
Terus mengupayakan konsisten dalam kebaikan juga menjadi tonggak yang penting. Alih-alih su’ul khotimah yang diraih meski sebelumnya telah menjejaki jalan kebaikan namun sekalinya tergoda untuk beralih jalur dan justru dalam keadaan fujur kita berakhir. Na’udzubillah.
Orang baik juga tak mungkin seorang diri. Sebutlah, Musa a.s . yang bersamanya ada Harun a.s. Sebut pula Muhammad bin Abdullah yang bersamanya ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan banyak lagi. Karena menjadi orang baik itu tidak bisa seorang diri. Dibutuhkan partner yang membersamai..

Source : Islampos