Rabu, 07 Mei 2014

Preview Movie : Hide And Seek



Judul: Hide And Seek
Director: Huh Jung
Writer: Huh Jung
Genre: Thriller / Mystery
Rilis: 14 Agustus 2013
Distributor: Next Entertaiment World
Durasi: 107 menit

Film thriller mystery karya director Huh Jung sekaligus film perdananya dalam debutnya segabai seorang director, berkat film ini dia meraih Best New director di 2013 (33rd) Korean Association of Film Critics Awards, film yang berhasil menjadi Box office dan masuk jajaran 10 film terlaris di tahun 2013 dengan mengantongi jumlah penonton sebanyak 5,6 juta penonton.



 Film dengan tema sebuah keluarga yang hidup di sebuah apartement mewah yang selalu mendapat terror dari orang aneh yang menggangu kenyamana dan keamanan mereka sekeluarga, film dengan main cast Son Hyun Joo (Secretly Greatly, The Devil's Game dll), Jeon Mi Sun (Wedding dress, mother dll) dan Moon Jung Hee (Deranged, Cafe Noir dll).

Film ini berkisah tentang seorang ayah bernama Sung Woo (Son hyun Joo) seorang yang menderita depresi berat karena masa lalunya, dia selalu mengkonsumsi obat psikiatrik karena tidak bisa melupakan kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu terhadap kakak laki-lakinya, rasa bersalah itu terus menghantuinya setiap hari, hingga suatu hari dia bersama istri dan kedua anaknya mencari kakanya di sebuah rusun kumuh tempat kakanya tinggal, istrinya yang diperankan Jeon Mi Sun selalu suport suaminya, dia faham betul apa yang dirasakan suaminya yang hendak memperbaiki hubungannya dengan kakanya dan mengakui kesalahan dengan meminta maaf terhadapnya, namun apa yang terjadi di rusun tempat kakaknya tinggal terdapat banyak kejanggalan di sana, seorang tetangga dari kakanya yang mengetahui bahwa mereka akan menemui orang yang bernama Baek Song Chul (nama kakanya Sung woo) tiba-tiba mengusir mereka dengan nada yang penuh ketakutan setelah mendengar nama itu.

Sepulang mencari kakanya keanehanpun menimpa keluarga mereka dan main lama semakin sering terjadi, seseorang yang berjacket berikut memakai helmet beserta payung hitam ditangannya tidak henti-hentinya menterror keluarga mereka, ketidaktenangan dalam keluarganya makin bertambah-tambah karena terror makin lama makin bertambah mengerikan dan sekarang keselamatan keluarganya terancam, apa yang sebenarnya terjadi? siapakah sosok orang berjacket memakai helmet dengan payung hitam ditangannya itu? bagaimanakah mereka menghadapi terror yang mengerikan itu? mistery apa yang sebenarnya terjadi? penasaran? tentu saja anda harus menontonnya sendiri.

 Sebuah film thriller berbalut mystery yang mampu memberikan kita ketegangan, tensinya dibangun dengan sangat baik, Son Hyun Joo mampu memerankan karakternya dengan baik sebagai seorang ayah yang memiliki masa lalu yang buruk, kesalahan yang pernah dilakuakannya di masa lalu membuatnya terpuruk akan ketakutan yang luar biasa, depresi berat berikut halusianasi yang selalu menimpanya membuat hidunya tidak tenang, kecemasan berlebihan yang dialamainya menjadikan dirinya pengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder) maniak bersih-bersih dan tidak tahan jika melihat sesuatu yang kotor dan berantakan di hadapannya.

Huh Jung cukup berhasil mengajak penonton menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi, membuat kita menebak-nebak mystery apa yang sebenarnya tersembunyi dan menebak-nebak siapa sosok misterius tersebut, film thriller yang mampu mendistruct penonton pada banyak hal dan itu cukup effective membuat kita terkejut dengan kemunculan twist di akhir cerita, cukup kental akan nuansa mystery yang menghadapkan penonton terhadap sebuah rahasia besar yang harus dikuak kepermukaan, hanya saja kenapa begini dan kenapa begitu pertanyaan-pertanyaan itu datang berkali-kali ada beberapa factual error muncul disana yang tentu saja itu terkesan aneh, why? mungkin bagi mereka yang terlalu focus akan keseraman dan rasa takut yang terjadi disini, meraka tidak akan menyadari bahwa banyak hal ganjil yang sulit dicari rasionalnya dan tentu saja dibalik semua kelebihan berikut kekurangan yang ada, bagi pencinta film thriller sayang jika melewatkan film yang satu ini, karena selain anda dibuat mencekam dengan terror-terror mengerikan, anda juga akan dihadapkan pada twist ending yang menunggu anda di akhir cerita.

Pakai Kacamata Biru Saja


Ibda
binafsika, dimulai dari diri sendiri. Apa yang harus kita dimulai dari diri sendiri? Semuanya. Sejak awal, semuanya kita mulai dari diri kita. Sebelum kita menjelajahi tempat-tempat yang jauh di bumi ini, kita memulainya dengan gerakan jatuh-bangun, merangkak, lalu jatuh lagi, di tempat kita berdiri. Alhasil, jarak yang jauh terbentang itu bukanlah masalah, karena sejak dini kita telah memulainya dari diri sendiri.
Kitalah yang memulai segalanya, sementara orang di sekitar kita sekadar memberi pancingan saja. Proses ini memberikan pelajaran bahwa kalau kita ingin orang lain mendukung diri kita, mulailah dukungan itu dari diri kita. Soalnya, segala sesuatu dalam hidup ini punya abjad, dan abjad A-nya berada di dalam diri kita. Kitalah pencipta dukungan itu yang kemudian diterima oleh orang lain untuk diperkuat. So, kalau kita berbuat sesuatu lalu orang lain tidak bereaksi, jangan cepat cepat bilang “tidak ada yang mendukung”, sebab bisa jadi persoalannya adalah dukungan itu belum kita ciptakan, jadi bagaiman orang mau memberikan dukungannya.


Kalau kita ingin seluruh dunia berwarna biru, misalnya, tindakan yang kita lakukan bukanlah dengan menyuruh semua orang untuk memakai baju biru sambil mengecat seluruh tembok dan jalanan dengan cat biru. Ini tentu susah dan bermasalah. Yang mudah adalah, pakai saja kacamata berwarna biru. So, kita akan melihat seluruh dunia berwarna biru. Ini sama saja jika kita ingin seluruh dunia berbau harum. Caranya bukan dengan menyemprotkan parfum ke seluruh tempat di jagat raya ini. Cukup sapukan setetes minyak wangi di hidung kita, maka semuanya akan tercium harum.


Nah, akhirnya, ibda binafsika  juga berarti memperlakukan siapa saja sama seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Kalau kitatidak ingin disakiti, seperti itu jugalah keinginan orang lain. Kita pasti tidak akan menyakiti orang lain, kalau kita mulai untuk tidak menyakiti orang lain dari diri kita sendiri; tidak sekedar omdo, basa-basi, sok menasihati, formalitas, apalagi tipu muslihat.



Majalah Annida No.3/XVI Edisi Nopember 2006



Minggu, 20 April 2014

Lidah Mertua Si Penangkal Radiasi

Lidah mertua masuk ke Indonesia sekitar tahin 1980-an dengan jenis laurentii dan trifasciata. Pamor lidah mertua semakin meroket karena penelitian NASA yang menyebutkan, bahan aktif pregnan glikosida yang terdapat di lidah mertua mampu menyerap 107 unsur yang terkandung dalam polusi udara. Maka, tidak salah kalau kita dianjurkan untuk meletakkan lidah mertua di dalam ruangan.

Selain bisa menghilangkan polusi, bentuknya yang meninggi dan tumbuh bergerombol membuat sebagian orang menjadikan tanaman ini sebagai pagar. Dibalik bentuk yang sederhana itu, lidah mertua juga dimanfaatkan menjadi benang dan bahan anyaman. Bahkan seratnya ada yang ditenun unutuk dijadikan pakaian. Pabrik tenun di Filipina misalnya, menggunakan serat lidah yang dikombinasikan dengan serat nanas sebagai bahan baku kain.

Di beberapa negara maju, lidah mertua digunakan sebagai bahan dasar parfum. Bila ingin membuktikan aromanya, cobalah berdiri di dekat lidah mertua saat sore hari. Tanaman ini akan menghasilkan wewangian. Terlebih ketika berbunga.

Antipolutan
Banyak kota–kota di dunia memiliki kualitas udara yang buruk. Zat-zat pencemar udara yang paling sering dijumpai di lingkungan perkotaan adalah SO2, NO dan NO2, CO, O3, SPM (Suspended Particulate Matter) dan Pb (Lead). Polutan-polutan tersebut juga menyebabkan hujan asam, global warming, dan anomali iklim El Nino-La Nina yang merusak lingkungan hidup. Hal ini menyebabkan filter polutan secara alami sudah jauh berkurang sehingga menyebabkan kanker paru (Bronchogenic Carsinomas).

Kanker paru di Indonesia menduduki peringkat 4 kanker terbanyak dengan prognosis buruk. Kanker paru di perkotaan dapat disebabkan oleh paparan polutan (xenobiotik). Polutan yang gagal dimetabolisme dengan metabolisme xenobiotik akan menyebabkan mutasi pada gen supresor tumor. Mutasi menyebabkan penonaktifan gen supresor tumor seperti gen p53. Akibat hal ini maka sel paru menjadi sel kanker berprofeliferasi sehingga menyebabkan terjadinya kanker paru.

Dari hasil studi literatur diketahui bahwa tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) memiliki zat aktif pregnane glikosid (Purwanto, 2006). Polutan yang telah diserap kemudian dikirim ke akar, pada bagian akar, mikroba melakukan proses detoksifikasi. Proses detoksifikasi ini mempergunakan zat aktif pregnane glikosid. Melalui proses ini, mikroba akan menghasilkan suatu zat yang diperlukan oleh tanaman seperti asam amino, gula, dan asam organik. Setelah didetoksifikasi juga dihasilkan udara yang telah bersih.

Sansevieria sp mampu menyerap polutan derivat hidrokarbon seperti formaldehid sebanyak 0,938 mikrogram/jam, jadi untuk ruangan 100 m2 cukup ditempatkan Sansevieria laurentii dewasa berdaun 4-5 helai. Untuk ruangan dengan volume 100 m3 (panjang x lebar x tinggi = 5 x 5 x 4 m3) dapat ditempatkan Sansevieria dewasa sebanyak 5 helai sebagai penetralisir udara tercemar agar ruangan tersebut bebas polutan.

Konsep ecocity mampu menyediakan lahan hijau terbuka yang lebih luas untuk ditanami Sansevieria sp sehingga bisa mendukung untuk mengoptimalkan fungsi Sansevieria sp. Selian itu kosen ini mampu meningkatkan kesdaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan.

Penangkal Radiasi
Tanpa kita sadari, sebenarnya kita dikelilingi oleh berbagai radiasi. Aktivitas yang kita lakukan dimana pun seperti di kantor, di lapangan, di rumah, di pasar dan lain tempat, ternyata selalu ada radiasi. Radiasi yang ada di sekitar kita ini dihasilkan oleh berbagai sumber energi. Listrik, peralatan elektronik, panas, cahaya dan berbagai gelombang elektromagnetik merupakan sumber radiasi yang sangat dekat.

Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi yang telah disebutkan di atas ke lingkungan sekitarnya tanpa memerlukan media. Sedangkan dalam istilah sehari-hari, radiasi selalu diasosiasikan sebagai radioaktif dan salah satu sumber radiasi pengion seperti reactor nuklir. Selain radiasi, banyak energi yang bisa dipindahkan dengan cara konduksi, kohesi dan konveksi.Radiasi sendiri terbagi menjadi dua golongan yaitu radiasi yang bersumber dari alam dan radiasi yang berasal dari buatan manusia.

Ada tiga sumber utama radiasi yang bersumber dari radiasi alam (bukan buatan manusia) yaitu :
1. Sumber radiasi kosmis
Berasal dari luar angkasa, sebagian dari ruang antar bintang dan juga matahari dengan berbagai jenis sinarnya. Radiasi dari sinar matahari mengandung energi yang sangat tinggi terutama sinar ultra violet. Apabila berinteraksi dengan inti atom stabil di atmosfir dapat membentuk inti radioaktif seperti Carbon-14, Helium-3, Natrium-22 dan Be-7. Besarnya tingkat radiasi dapat dipengaruhi oleh letak geografis suatu wilayah, ketinggian tempat dan langsung atau tidaknya radiasi diterima.
2. Sumber radiasi terrestrial
Secara alami radiasi dipancarkan oleh radionuklida dalam kerak bumi yang sudah ada sejak bumi terbentuk. Jenisnya adalah deret uranium, yaitu peluruhan berantai mulai Uranium-238, Plumbum-206, deret Actinium (U-235, Pb-207) dan deret Thorium (Th-232, Pb-208). Radiasi terbesar yang diterima manusia berasal dari Radon (R-222) dan Thoron (Ra-220) sebab kedua nuklida ini berbentuk gas sehingga mampu menyebar kemana-mana. Tingkat radiasi yang dipancarkan dipengaruhi oleh konsentrasi radiasi yang terdapat di kerak bumi, seperti di Pocos de Caldas dan Guarapari dari Brazil. Kemudian Kerala dan Tamil Madu di India serta Ramsar di Iran. Tempat tersebut memiliki pancaran radiasi di atas rata-rata.
3. Sumber radiasi internal yang berasal dari tubuh manusia sendiri
Sejak lahir manusia sudah mempunyai sumber radiasi, namun bisa dihasilkan oleh makanan, pernapasan dan luka yang terjadi di tubuh. Radiasi internal ini terutama diterima dari radionuklida C-14, H-3, K-40 dan Radon. Selain itu juga Pb-210 dan Po-210 yang terdapat pada ikan dan kerang-kerangan. Sedangkan buah-buahan biasanya mengandung radiasi dari unsur K-40.

Di samping radiasi yang berasal dari alam ada juga sumber radiasi yang dibuat manusia. Ini yang sering mendatangkan bahaya besar. Radiasi buatan telah diproduksi manusia sejak abad ke-20 dengan ditemukannya sinar-X oleh WC Rontgen. Saat ini banyak sekali jenis sumber radiasi buatan manusia baik yang berupa zat radioaktif atau sumber pembangkit radiasi lainnya seperti mesin sinar-X, komputer dll.Radioaktif dibuat berdasarkan reaksi inti antara nuklida yang tidak radioaktif dengan neutron yang biasa disebut dengan reaksi fisi di dalam reactor atom. Radiasi buatan ini bisa memancarkan gelombang alpha, beta, gamma dan neutron.

Belakangan tren yang berkembang adalah adanya reactor nuklir yang bisa mengakibatkan efek buruk apabila terjadi kebocoran atau ledakan pada reaktornya. Tak sedikit pula yang mengembangkannya menjadi senjata dengan berbagai jenisnya.Pengalaman di Perang Dunia Kedua menunjukkan bahwa bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki Jepang sanggup memusnahkan kota dalam waktu sekejap saja. Radiasi yang ditimbulkannya berakibat sangat buruk pada diri manusia. Demikian pula dengan ledakan di reactor nuklir Chernobyl dampaknya sangat dirasakan oleh mereka yang bertempat tinggal di sekitar kawasan itu. Jadi sesungguhnya kita selalu bersentuhan dengan radiasi dengan tingkat pancaran yang berbeda-beda.

Cahaya matahari, komputer, televisi, handphone, dan peralatan elektronik lainnya yang memancarkan gelombang elektromagnetik merupakan sumber radiasi yang sudah lekat dalam kehidupan dan aktivitas kita. Demikian pula dengan peralatan perang serta alat kedokteran modern yang memanfaatkan gelombang cahaya.Besarnya radiasi yang boleh diterima oleh mereka yang bekerja di lingkungan radiasi tidak boleh melebihi 50 milisievert per tahun. Sedangkan bagi masyarakat pada umumnya tak melebihi dari 5 milisievert per tahun. Jika melebihi dari angka di atas dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi kesehatan diri manusia itu sendiri. Demikian ketentuan dari International Atomic Energy Agency (IAEA)Karena radiasi sangat lekat dalam kehidupan, maka kita perlu menjaga diri agar radiasi yang terdapat di sekeliling kita itu tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

Usaha preventif lebih baik dilakukan, salah satunya adalah dengan cara mengatur pemakaian peralatan yang memancarkan radiasi agar tidak berlebihan dan jika perlu memasang alat anti radiasi .Konon tanaman yang sering disebut sebagai "Lidah Mertua" bisa mengurangi dampak radiasi dari peralatan elektronik di rumah kita karena fungsinya yang mampu menyerap pancaran radiasi itu sendiri dari sumbernya. Sansevieria andalan itu dari jenis Bolpho Pyllom asal Amerika. Jenis ini adalah salah satu jenis sansevieria silindris langka yang biasa hidup di gurun pasir (Sumber Depkes)

Obat untuk Kesehatan
Untuk kesehatan, getah lidah mertua dapat digunakan sebagai obat antiseptik. Jika direbus, akarnya bisa dimnfaatkan untuk tonik penyegar rambut dan obat wasir. Sedangkan bagian daunnya bila dibakar, bisa menyembuhkan sakit kepala dan demam. Selain dibakar, daun juga dapat direbus untuk perawatan diabetes.

Tanaman asli benua Afrika ini memiliki manfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menjaga kesehatan tubuh bagi manusia. Seluruh bagian tanaman ini dapat dijadikan sebagai obat herbal, kata Hj. Lien Said, Dewan Penasehat Komunitas Pencinta Sansievieria (tanaman hias lidah mertua) Indonesia (KOMPENSASI), saat ditemui Sinar Tani di Rumah Hortikultura, dalam pagelaran Agrinex Expo 2010, di Senayan, Jakarta.

Beberapa penelitian Sansivieria menggolongkan tanaman ini termasuk dalam material medika karena kandungan kimia dan efek farmakologis secara klinis teruji positif dari daun, buah dan akar. Dari penelitian-penelitian tersebut ditemukan Sansiviera memiliki kandungan antiseptik di beberapa bagian tanamannya terutama pada daun, jelas wanita yang juga memiliki usaha nursery di kawasan Jakarta Selatan ini. Lien mengatakan jenis Sansievieria yang sangat baik untuk dijadikan tanaman obat adalah dari jenis Sansevieria trifasciata 'lorenttii. Menurut penelitian, bagian daun dari Sansivieria trifasciata lorentii ini bisa dimanfaatkan untuk mengobati bengkak, penyakit kulit seperti eksim, sakit gigi, wasir, pencegah flu, dan penawar racun dari binatang berbisa.

Di daerah Afrika, sansevieria telah lama digunakan oleh penduduk lokal sebagai penghalau racun akibat gigitan ular dan serangga. Di beberapa daerah di negara-negara Asia, getah tumbuhan ini digunakan sebagai cairan antiseptik dan daunnya digunakan untuk membalut luka pada tindakan P3K, jelas Lien. Untuk pemakaian obat luar, Lien mengatakan, daun Sansivieria yang telah dicuci bersih kemudian digiling atau ditumbuk halus, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Dengan pemakaian daun Sansievieria tumbuk ini, penyembuhan lukanya menjadi lebih cepat dan lebih alami sehingga resiko efek samping bisa diminimalisir, jelas Lien.

Selain sebagai obat luar, Lien mengungkapkan, bahwa Sansieviera ini juga bermanfaat untuk mengobati penyakit dalam seperti diabetes. Bagi penderita diabetes, daun tanaman Sansevieria trifasciata 'lorenttii' ini bisa menjadi obat alternatif. Cara penggunaannya, beberapa lembar daun dipotong-potong dan direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Sisa air rebusan ini kemudian diminum kepada penderita, terang Lien. Selain daun, bagian buah dan akar tanaman hias berdaun runcing ini juga dapat digunakan sebagai obat-obatan. Bagian buahnya mengandung senyawa astrigen yang menyejukkan sehingga dapat menurunkan panas, mencegah peradangan, mengobati batu ginjal, radang tenggorokan dan peluruh urin. Bagian Akarnya yang memiliki rasa tawar bermanfaat menurunkan tekanan darah, mengobati diare, sifilis serta wasir.

Perawatan Lidah Mertua
Tanaman ini bisa hidup dengan paparan sinar matahari maupn di dalam ruangan. Tapi bila ingin didimpan dalam ruangan, jangan lupa dijemur seminggu sekali agar tanaman tetap segar. Penyiraman hanya perlu dilakukan 1-2 kali seminggu. Terlalu sering menyiram justru akan membuat tanaman ini dihinggapi bakteri. Ketika menanam juga pilih media tanam tanah, sekam bakar, pasir malang, dan pakis. Untuk pemupukan, lidah mertua cocok dengan pupuk yang lambat urai seperti Osmocote, Dekastar, dan Magamp.

Dari berbagai sumber

Waktu Sisa


SEBERAPA baik sesuatu yang bisa kita persembahkan untuk dzat yang maha pengasih yang telah memenuhi segala kebutuhan kita?
Allah memang tidak pernah meminta balasan atas segala kecukupan yang diberikan kepada manusia, namun benarkah status derajat tertinggi diantara para makhluk membuat manusia lupa berterima kasih dan memberikan yang terbaik padaNya?
Diakui atau tidak diakui Dia telah banyak mengabulkan keinginan kita, entah cepat atau lambat. Mari kita ingat kembali, 24 jam waktu yang diberikan Allah, berapa persen yang kita tunjukkan untuk Dia?
Jangan tanya Rasulullah SAW, yang tingkat keimanannya diatas manusia, sesungguhnya seluruh waktunya tidak pernah lupa tanpa melibatkan Allah.
Bagaimana dengan kita? Allah mungkin seringkali hanya mendapatkan ‘waktu sisa’. Ya benar,  waktu sisa bekerja, waktu sisa berpergian, waktu sisa keluarga, waktu sisa bersenang-senang, bahkan waktu sisa tidur.
Coba ketika adzan berkumandang, ketika itu panggilan Allah meminta kita menghadapnya. Apa sikap kita? Bersegera memenuhi panggilanNya atau ‘Ntar dulu ah’ Ketika adzan shubuh, kita berfikir nantilah jam 6.00 padahal shubuh jam 4.20. Maka Allah mendapat waktu sisa dari tidur kita. Ketika adzan dzuhur, kita menunda lagi sholat hingga akhir waktu dzuhur dengan berbagai alasan, sibuk bekerja, sedang makan siang, dll. Maka Allah kembali mendapat waktu sisa dari kesibukan kita. Demikian pula waktu ashar, maghrib dan isya.
Allah selalu mendapat waktu sisa dari waktu tidur siang kita, dan sisa dari waktu mencari rezeki. Padahal ketika seseorang paham bahwa yang mengatur rezekinya adalah Allah, dia tidak perlu takut kehilangan rezekinya akan diambil orang. Karena hidup, mati, rezeki telah Allah tetapkan sebelum seseorang lahir. Tidak akan berkurang rezeki itu hanya karena kita sebentar meninggalkan urusan dunia untuk melakukan shalat tepat waktu.
Sesungguhnya hati yang terkunci itu adalah ketika usia terus bertambah namun kesadaran keimanan bukan bertambah baik namun bertambah buruk.
Sebegitu besarnya kasih sayang Allah pada kita. Mengapa kita hanya bisa memberi waktu sisa?


Source : Islampos

Kamis, 17 April 2014

Apa yang Anda Pikirkan?


KATA-kata itu bisa teman-teman jumpai di beranda facebooknya masing-masing. Perlu teman-teman facebooker ketahui bahwa islam telah mengjarkan tradisi berpikir (Tafakur) kepada umat-Nya. Dalam lembar cinta-Nya Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam kedaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka,” (QS. Al-Imran: 191).
Pedoman ayat di ataslah sebenarnya yang mendorong kita untuk selalu berpikir. Bukankah perubahan, perbaikan dan pengembangan diri selau dimulai dari pikiran kita?
Anis Matta pernah mengatakan “Kekuatan kepribadian kita akan terbangun saat kita mulai memikirkan pikiran-pikiran kita sendiri, memikirkan cara kita berpikir, memikirkan kemampuan berpikir kita, dan memikirkan bagaimana seharusnya kita berpikir”.
Menelaah dari ungkapan sarat makna di atas bahwa akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan dan karakter adalah pikiran kita. Dalam hal inilah kita perlu mengevaluasi diri tentang tradisi berpikir kita.
Muhasabah Diri
Coba kita renungkan bersama, pernahkah kita galau jika pada hari ini tak selembar pun Al-Qur’an kita baca? Pernahkah kita guling-guling sambil bilang WOW tatkala banyak maksiat yang telah kita perbuat? Bukankah Allah seringkali mengingatkan kita afala tatafakkarun  ‘tidakkah memikrkannya?’
Ketika kita terbiasa mengevaluasi jarak kedekatan kita kepada zat Yang Maha Agung Allah SWT maka sejak itu pula kita telah melatih diri kita agar berpikir (tafakur) untuk mensyurgakan peran. Alhasil muhasabahlah yang mampu memediasi keterpurukan hati-hati kita tatkala kondisi iman sedang kering kerontang.
Siang dan malam telah menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita selama satu hari ini. Jika perbuatan itu bernilai ibadah maka akan semakin mendekatkan kita kepada Allah. Tapi jika perbuatan itu bernilai keburukan maka hanya kesia-siaanlah yang kita dapat.
Semoga ini bisa menjadi renungan di peraduan malam sebelum kita melangkahkan kaki  menuju ‘pulau kapuk’. Serta menjadi bahan evaluasi terhadap amalan yaumiah apa yang telah kita kerjakan. Wallahu a’lam bish-shawab
Source : Islampos

Rabu, 16 April 2014

Jauh Sebelum Newton, Al-Quran Berbicara Soal Gravitasi


PERNAHKAH kita berpikir, kenapa bumi, matahari, bintang, bulan, planet, tatasurya tidak jatuh dan tidak berbenturan satu sama lainnya? Begitu juga lautan, gunung juga bumi tempat kita berpijak dan menetap ini tidak goyang, stabil dan kukuh pada tempatnya?

يقول تعالى: (اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ) [غافر: 64].

“Allah yang menjadikan buat kamu bumi sebagai tempat menetap dan langit sebagai bangunan, dan membentuk kamu lalu membaguskan bentuk kamu serta memberi kamu rezeki yang baik-baik. Demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, maka Maha banyak anugerah Allah, Tuhan semesta alam”. Q.S. Ghafir; 40:64

PENJELASAN AYAT

Dalam ayat ini Allah berbicara tentang aneka anugerah-Nya yang dibentangkan di hadapan kita, yaitu dijadikannya bumi sebagai tempat menetap dan langit sebagai bangunan, dan membentuk rupa dan postur manusia dalam aneka bentuk yang berbeda satu dengan yang lain, serta memberi rezeki yang baik-baik dan bermanfaat.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan kata (qararan) yakni bumi sebagai hamparan dan tempat menetap dalam kondisi stabil dan layak buat kehidupan kamu walau dia senantiasa beredar. Berkat rahmat dan karunia-Nya, Allah SWT menjadikan bumi ini terhampar luas dalam kondisi stabil. Kenapa demikian?

FAKTA ILMIAH

Dalam riset ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan terdahulu, mereka mengatakan bahwa semua benda memiliki gaya Gravitasi yaitu gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. Berat suatu benda adalah hasil kali massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi.

Ilmuwan pertama yang mengungkap hukum Gravitasi Bumi ini adalah Isaac Newton pada abad 17, ia menjelaskan semua benda-benda di angkasa memiliki massa. Begitu juga bumi memiliki massa yang sangat besar yang menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-benda yang ada di bumi. Karena gravitasi inilah maka semua benda di alam raya ini menyatu hingga atmosfer (lapisan udara).

Jika bumi tidak memiliki gaya gravitasi, benda-benda di alam raya ini akan tersebar, begitu pula bumi, matahari, dan sebagian besar benda makroskopik di alam semesta. Gravitasi dikenal juga sebagai agen yang memberi bobot ke objek dengan massa dan menyebabkan mereka untuk jatuh ke tanah ketika jatuh.

SISI ILMIAH MUKJIZAT AL-QUR’AN

Para ulama yang mendalami kemukjizatan al-Qur’an mengatakan bahwa Allah telah mengisyaratkan tentang nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita jauh sebelum para ilmuwan melakukan penelitian tentang gravitasi, yaitu dijadikannya bumi sebagai tempat menetap (“Allah yang menjadikan buat kamu bumi sebagai tempat menetap” ) dan juga kestabilan segala sesuatu yang berada di atasnya karena sebuah sistem yang disebut “sistem gravitasi bumi”.

Subhanallah…

Source : Islampos

Selasa, 15 April 2014

Pesona Waktu


Oleh: Ustadz Kemas Mahmud Al-Hanif, Trainer Motivasi dan Penulis Buku “Agar Usia Tak Sekedar Angka”
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Assalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh…
WAKTU teramat berharga untuk disepelekan, karena tak sesederhana kata yang terucap. Ia diam seribu bahasa, sampai- sampai manusia seringkali tidak menyadari kehadiran dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu, selain penciptanya, tidak akan mampu melepaskan diri darinya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3).
Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu sedetik pun. Tanpa sadar, kita sudah dibawanya pada sebuah penyesalan bila tidak bersungguh – sungguh memanfaatkannya.
Waktu ibarat pulsa pada HP, bayangkan apabila anda memiliki pulsa Rp. 48.000,- setiap paginya, dan masa aktif pulsa itu akan habis pada malam harinya. Tentunya kita akan menggunakannya dengan semaksimal mungkin , dengan menelepon, sms kepada kerabat-kerabat dan lain sebagainya. Karena jika tidak, rugilah kita. Pulsa itu akan hangus terbuang percuma.
Pada hakikatnya semua manusia diberi modal waktu untuk hidup, yaitu umur yang telah ditetapkan baginya. Modal itu setiap hari, jam, menit dan detiknya berkurang. Sebuah hal yang mesti kita renungkan agar kita tidak mendapatkan kerugian nantinya.
Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru,”Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. gunakanlah aku karena aku tidak akan kembali lagi pada hari kiamat.”
( Kitab Syuruth An-Nahdah).
Kita hidup dalam tiga waktu, pertama hari kemarin. Kita tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi, tak bisa menarik perkataaan yang telah terucapkan, tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulang kegembiraan yang kita rasakan kemarin.
Kedua, hari esok. Hingga mentari esok terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi, kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari, kita tak bisa melihat sedih atau ceria esok hari.
Yang ketiga adalah hari ini. Pintu hari kemarin telah tertutup. Pintu hari esokpun belum tentu terbuka. Maka buatlah yang terbaik hari ini. Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini, bila mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan kekuatan esok hari. Hiduplah hari ini, karena yang ada adalah hari ini. Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada kita. Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa kita menunjukan penghargaan pada orang lain, bukan karena siapa mereka, tetapi siapakah diri kita.
Jadi jangan biarkan masa lalu mengekang atau membuat bingung. Lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga.
“Kenyataan hari ini adalah kumpulan perbuatan masa lalu,
dan mimpi- mimpi kita esok hari adalah kenyataan yang kita lakukan hari ini.”
Semoga bermanfaat. Sahabat fillah, tetap istiqomah dan semangat menjalani hari-harimu.

Source : Islampos

Subhanallah, Benar Kata Quran: Ada Kobaran Api di Dasar Laut


“Ada laut yang di dalam tanahnya ada api” (Qs. Ath-Thur 6). Nabi SAW bersabda: “Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.”

BANGSA Arab, pada waktu diturunkannya Al-Qur’an tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara” sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?

Persepsi demikian mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT: “Dan apabila lautan dipanaskan” (QS. At-Takwir 6).

Ulasan Hadits Nabi

Hadits yang Nabi sebutkan sangat sesuai dengan sumpah Allah SWT yang dilansir oleh Al-Qur’an pada permulaan Surah Ath-di mana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah apapun demi lautan yang di dalam tanahnya ada api “al-bahrul masjur.”)” “Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma’mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.” (Qs. Ath-Thur: 1-8)

Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).

Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja “sajara” selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata “sajara,” yaitu “mala’a” dan “kaffa” (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.

Namun, hadits Rasulullah SAW yang sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.

Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai ‘gunung-gunung tengah samudera’.

Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan. sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.

Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan “fenomena perluasan dasar laut dan samudera.” Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.

Meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera….

Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.

Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.

Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.

Terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi…

Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.

Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda: “Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.”

Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir.

Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan” (QS. An-Najm 3-10)

Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad SAW dan kesempurnaan kerasulannya. [Keajaiban al-Quran]

Senin, 14 April 2014

Berlari Bersama Beban


Oleh: Iqbal Muharram, iqbalmuharraminspirer.blogspot.com
MALAM ini aku seperti kehabisan amunisi untuk tidur, namun sudah kehabisan alasan juga untuk tidak tidur. Sesorean tadi aku habiskan waktu di masjid Nurul Islam, sebuah masjid di daerah Jalan Kaliurang kilometer 5, di sana aku tidur bersama pilek, pusing dahsyat, dan meriang yang sejak bangun pagi hari ini mengiringi waktu-waktu. Mungkin masuk angin setelah latihan Tsufuk di bawah gerimis kemarin sore. Itu yang membuatku seperti kehabisan amunisi untuk tidur, tapi untuk tidak tidur pun aku harus menyadari kondisi fisikku yang belum benar-benar pulih.
Alhamdulillaah dalam kondisiku yang begini seharian masih bisa ber-ikhtiar produktif. Pagi-pagi aku isi dengan pendalaman materi untuk kemudian mengisi pelatihan pengurus BEM Fakultas dari jam 8 sampai jam 10, setelah itu dilanjut ke Masjid Kampus sampai waktu zhuhur untuk mentoring GMMQ (Gadjah Mada Menghafal Qur’an) walau akhirnya di sana hanya kebagian rapat evaluasi karena aku terlambat datang di hari pertama menjadi mentor ini, kemudian family time—makan siang bersama adik-, kemudian sampai jam 2 sore mengisi pengenalan dan wawancara calon penerima Beastudi Etos wilayah Yogyakarta, dan.. pusingku setelah itu mencapai klimaks sehingga terkaparlah aku di masjid Kaliurang. Kejadian setelahnya adalah bangun-tidur-bangun-tidur-bangun ala mbah Surip, bangun untuk sholat, meringis kesakitan, zikir, dan minum, lalu tidur lagi sampai menjelang maghrib. Bakda Isya sampai pukul 21.15 WIB juga masih bisa aku gunakan untuk ikhtiar produktif, mendampingi pembinaan TOEFL iBT untuk adik-adik penerima Beastudi Etos wilayah Yogyakarta.
Ini sering aku alami, dalam kondisi kesehatan yang memburuk, faktor semangat dan sugesti sangat berpengaruh untuk kelanjutan kondisi itu, menjadi lebih buruk atau terus membaik. Seringkali ketika muncul gejala sakit yang kemudian aku sikapi dengan berfikir negatif pada kondisi itu, maka akhirnya sakitlah yang menemaniku sampai beberapa hari ke depannya. Seringkali juga ketika muncul gejala sakit itu aku sikapi dengan ‘cuek’, terlebih dengan berfikir positif, maka kondisi itu berangsur cepat hilang. Akhirnya hari ini pun aku hanya butuh beberapa jam untuk pulih dan kembali merasa optimal beraktivitas, bi-idznillaah, dengan izin Allah ta’ala.
So, ini menjadi semacam tips yang bisa dicoba, ketika kondisi fisik kita dirasa memburuk, sesungguhnya kita sebagai manusia masih punya modal unsur lain, yaitu akal dan ruh yang bisa mendorong fisik kita terus menuju kebaikan. Akal yang menggiring kita untuk berfikir positif dan mengambil tindakan cepat untuk antisipasi dan pengobatan, kemudian ruh yang menuntun kita pada keikhlasan—dengan syukur dan sabar—atas keputusan Allah ta’alaterhadap diri kita pada saat itu dan selanjutnya. Bukankah sabar dan syukur adalah senjata orang mukmin untuk senantiasa survive dalam kebahagiaan dan ketenangan lahir-batin?
Hadits Abu hurairah r.a. ia berkata rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman: ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam suatu kaum, maka Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik darinya, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkalmaka Aku mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat pada-Ku satu hasta maka Aku mendekat padanya satu depa, jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Sabtu, 12 April 2014

Sepuluh Tanda Dekatnya Kiamat


DARI Huzaifah bin Asid Al-Ghifari Ra. ia berkata: “Datang kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kami waktu itu sedang bertukar pikiran. Lalu beliau bersabda: “Apa yang kamu bicarakan?” Kami menjawab: “Kami sedang berbicara tentang hari qiamat.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya. “Kemudian beliau menyebutkannya: ” Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam Alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab, yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia ke Padang Mahsyar mereka.” (HR. Muslim).
Keterangan Sepuluh tanda-tanda qiamat yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Hadits ini adalah tanda-tanda qiamat yang besar yang akan terjadi ketika hampir tibanya hari qiamat. Sepuluh tanda itu ialah:
1. Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit seperti selesma di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan orang kafir
2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan menguji keimanan, sehingga banyak orang yang akan tertipu dengan seruannya
3. Binatang besar yang keluar dekat gunung Shafa di Makkah yang akan berbicara, manusia sudah tidak mau lagi beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
4. Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya. Maka waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat dari orang yang berdosa
5. Turunnya Nabi Isa Alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahdi yang sedang berkuasa pada waktu itu dan heliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleh orang-orang Nashrani dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal
6. Keluamya bangsa YaJuj dan Ma’juj yang akan membuat kerusakan di permukaan bumi ini, yaitu apabila mereka berhasil menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama pembantu-pembantunya pada zaman dahulu
7. Gempa bumi di Timur
8. Gempa bumi di Barat
9. Gempa bumi di Semenanjung Arab
10. Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar
Api itu akan bermula dari arah negeri Yarnan. Menurut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari beliau mengatakan: “Apa yang dapat dirajihkan (pendapat yang terpilih) dari kumpulan Hadits-Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluarnya Dajjal adalah yang mendahului segala tanda- tanda besar yang mengakibatkan perubahan besar yang berlaku di permukaan bumi ini. Keadaan itu akan diakhiri dengan kematian Nabi Isa Alaihissalam (setelah beliau turun dati langit). Kemudian terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya adalah permulaan tanda-tanda qiamat yang besar yang akan merusakkan sistem alam cakrawala, kejadian ini akan diakhiri dengan terjadinya peristiwa qiamat yang dahsyat itu. Barangkali keluarnya binatang yang disebutkan itu adalah terjadi di hari yang matahari pada waktu itu terbit dari tempat tenggelamnya.” [akhir zaman]


Source : Islmapos

Jumat, 11 April 2014

Ada Api di Dalam Laut?


BANYAK sekali keajaiban-keajaban yang telah di tunjukkan oleh Allah SWT kepada kita. Bahkan, yang tidak rasional sekalipun. Apalagi, bila kita ingin menirunya, pasti tidak akan bisa percis sama seperti apa yang dibuat oleh Allah SWT. Seperti halnya, api di dalam laut. Namun, apakah benar ada api di dalam laut?

Apabila kita pikir secara logika, tentu itu tidak masuk akal. Api bila kita siram dengan air pasti akan mati. Tapi, mengapa api di dalam laut yang sejatinya terdapat air yang amat sangat banyak, tidak bisa memadamkan api tersebut? Subhanallah, inilah tanda kebesaran Allah SWT.

Baru-baru ini muncul sebuah fenomena retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava. Lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-luah, ia tidak bisa memadamkan api.

Allah berfirman dengan fenomena kosmik unik ini, yang artinya: “Ada laut yang di dalam tanahnya ada api,” (Qs. Ath-Thur 6).

Nabi SAW bersabda: “Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan,” (HR Abu Daud).

Ketika ayat ini diturunkan, Bangsa Arab tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara” sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih.

Ayat Al-Qur’an itu telah menjelaskan sruktur bumi itu sendiri. Ini terbukti dengan teori pemisahan lantai laut (seafloor spreading) yang menyebabkan magma di bawah kerak bumi keluar dengan tekanan yang kuat ke permukaan di bawah laut.

Pada pertengahan tahun 1990-an, dua ahli geologi berkebangsaan Rusia, Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama rekannya ilmuwan Amerika Serikat (AS), Rona Clint pernah meneliti tentang kerak bumi dan patahannya di dasar laut.

Para ilmuwan tersebut, menyelam ke dasar laut sedalam 1.750 kilometer di lepas pantai Miami. Sbagovich bersama kedua rekannya menggunakan kapal selam canggih yang kemudian beristirahat di batu karang dasar laut. Di dasar laut itulah, mereka dikejutkan dengan fenomena aliran air yang sangat panas mengalir ke arah retakan batu. Kemudian aliran air itu disertai dengan semburan lava cair panas menyembur layaknya api didaratan, dan disertai dengan debu vulkanik layaknya asap kebakaran di daratan. Tidak tanggung-tanggung panasnya suhu api vulkanis didalam air tersebut ternyata mencapai 231 derajat celcius.

Mereka menemukan fakta bahwa fenomena alam itu terjadi akibat aliran lava vulkanis yang terjadi di dasar laut, layaknya gunung api bila di daratan. Dan kemudian mereka menemukan lebih banyak lagi gunung api aktif di bawah laut, yang tersebar diseluruh lautan.

Sesungguhnya, Al-Qur’an telah menyebutkan fakta itu sejak 1.400 tahun lalu. Al-Qur’an menjelaskan api di dalam lautan itu dengan istilah “Masjur.” Dalam bahasa Arab, “Masjur,” dimaknai dengan sesuatu yang berada di atas, dipanaskan dari oleh panas dibawahnya. [rika/islampos/keajaiban-quran/voa-islam/religiusandart]

Source : Islampos

Kamis, 10 April 2014

Cerpen : Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.


Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Source : Kumpulan Cerpen Kompas

Selasa, 08 April 2014

Alien, Nyatakah?


MAHLUK luar angkasa memang masih menjadi misteri bagi mayoritas penduduk bumi hingga sekarang. Hal itu disebabkan oleh berbagai macam polemik dan perdebatan tentang keberadaannya. Dua kubu mempunyai pendapat yang berlawanan yaitu kubu yang meyakini bahwa Alien memang benar-benar ada sementara kubu yang lain mengatakan cerita tentang makhluk Luar angkasa hanyalah isapan jempol belaka. Ironisnya, masing-masing kubu mempunyai “bukti” yang menurut masyarakat awam cukup ilmiah.
Sementara itu kubu yang meyakini bahwa Makhluk Luar Angkasa benar-benar ada, mengatakan bahwa Pemerintah menutup-nutupi tentang keberadaan makhluk luar angkasa ini. Tuduhan ini sebenarnya cukup beralasan karena ada banyak kejadian yang menurut masyarakat adalah sebagai bukti keberadaan makhluk luar angkasa namun Penguasa terkesan menutup-nutupinya.
Contohnya adalah peristiwa Roswell yang hingga sekarang nasyarakat tidak mendapatkan penjelasan secara pasti tentang apa sebenarnya yang terjadi di tempat tersebut. Lebih mencurigakan lagi tempat tersebut di jaga ketat oleh militer dan tidak ada seorang warga sipilpun yang diijinkan melihat tempat tersebut.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mencipta. Makhluknya tak terhingga banyaknya. Sebagian dari makhkuk itu ada yang kita kenal dan ketahui, tapi begitu banyak jenis makhluk Allah lainnya yang kita tidak kenal dan tidak kita ketahui. Apalagi bila bicara tentang alam ghaib, maka lingkup pembicaraan kita semakin luas lagi. Allah memang mewajibkan kita untuk percaya atas keberadaan makhluq ghaib sebegaimana disebutkan di dalam surat Al-Baqarah ayat 2-4.
Tentu saja bila dikaitkan dengan makhluk ghaib yang jenisnya pun beragam, adanya makhluq asing di ‘langit’ (baca: diluar bumi) menjadi sesuatu yang bukan mustahil. Tapi bila alien yang dimaksud adalah makhluq biologis yang cerdas, secara ekslpisit Al-Quran memang tidak menyebutkannya. Meski tidak berarti tidak ada isyarat ke arah itu sama sekali.
Ada beberapa riwayat yang bersifat implisit dan tidak langsung tentang adanya makhluq hidup (manusia atau lainnya) di luar bumi. Pertama, ketika Rasulullah SAW mi‘raj ke langit, beliau pun bertemu dengan para nabi dan rasul sebelumnya. Bahkan mereka melakukan shalat berjamaah dan beliau menjadi imamnya. Ada juga riwayat yang shahih bahwa Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS dan melakukan dialog tentang kewajiban shalat.
Yang kedua, hadits-hadits shahih memberitakan kepada kita bahwa Nabi Isa AS pada akhir zaman akan ‘turun’ kembali ke muka bumi. Beliau ini bukan dari jenis jin atau malaikat, tetapi beliau adalah manusia (human). Atas izin dan kehendak Allah, beliau tetap ada meski bukan di bumi.
Ketiga, para syuhada yang mati mati syahid banyak disebutkan dalam Al-Quran bahwa mereka tidak mati, bahkan mereka hidup dan mendapat rezeki. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imron: 169).
Keempat, Al-Quran pun mengisyaratkan kepada manusia dan jin untuk menembus langit dan bumi. Hai jama‘ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman: 33)
Apakah dahulu sudah ada manusia atau jin yang telah berhasil melakukannya? Wallahu a‘lam bis-shawab. Tapi yang jelas ada indikasi tentang kehidupan di luar sana. Sehingga bila kita telurusi hal-hal yang sifatnya implisit seperti itu, tidak tertutup kemungkinan adanya makhluk biologis, siapa pun dia, yang hidup out there. Tapi semua itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa Islam memastikan adanya alien seperti yang sering kita lihat dalam cerita fiksi ilmiah. [Sumber: astrounika/konsultasi syariah]
Source : Islampos

Rabu, 19 Maret 2014

Bintang Berekor; 1400 Tahun Lalu Al-Quran Sudah Merincikan


“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (QS. Al-Mulk: 16-18).

DALAM susunan tata surya bumi tidak beraktivitas sendiri banyak susunan benda-benda planet yang juga berpendar dan bukan tidak mungkin bakal menabrak satu sama lain.

Dalam susunan tata surya bumi tidaklah beraktivitas sendiri, namun masih banyak lagi susunan benda-benda planet lainnya, dan bukan tidak mungkin bakal menabrak satu sama lain.

Jika terjadi tabrakan sebuah benda langit, maka hal itu dapat membuat pecahan dan serpihannya menyebar, dan jangan bayangkan serpihan- serpihan itu seperti debu, ukuran bisa sangat besar bahkan sampai berton-ton. Hujan meteor di Rusia pada Februari lalu misalnya.

Badan Antariksa Amerika Serikat mengatakan tak ada kaitan jatuhnya meteor itu dengan asteroid 2012 DA14 yang diprediksi akan melintasi Bumi.

Lalu dengan meteor atau bintang berekor yang jatuh ke bumi, sesungguhnya fenomena itu sudah jauh-jauh hari dirincikan al-quran, yakni 1400 tahun lalu!

Rasulullah Saw. bersabda, “Pada umat ini akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, HUJAN BATU, dan pengubahan rupa. Ada seorang dari kaum muslimin yang bertanya, kapankah peristiwa itu akan terjadi? Beliau menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal. (HR. Tirmidzi (2212) Al-Fitan dari hadits ‘Imran bin Hushain, Ibnu Majah (4060) Al-Fitan dari Sahl bin Sa’d, dan Thabrani dalam Mu’jamu ‘J-Kabfrdzn Mu’jamul-Ausath. Hadits ini shahih.)

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari ‘Abdullah, dengan redaksi, “Menjelang terjadinya Kiamat akan terjadi pengubahan rupa, penenggelaman bumi, dan hujan batu.” (HR. Ibnu Majah (4059) dalam Al-Fitan.)
Hujan meteor bahkan terjadi saban hari di pelbagai belahan bumi. Kepala Observatorium Bosscha, Taufik Hidayat, mengatakan, setiap harinya antara seratus sampai seribu ton meteor membombardir bumi, namun tidak sampai membahayakan manusia.

Karenanya para astronomi melakukan penelitian yang sangat aktif terhadap benda langit terutama kepada asteroid karena ukurannya yang cukup besar. “Jika ukurannya kecil tidak masalah karena akan habis ketika melewati atmosfer bumi, namun jika berukuran besar akan berbeda”, katanya.

Namun begitulah Al-Qur’an, kalam Allah yag diturunkan pada masa kerasulan nabi. Karena apakah mungkin Muhammad dari padang pasir arab yang terpencil dapat membuat buku tentang roket, orbit, astronomi, gas nebula seperti di atas. Apakah ini adalah karya dari seorang yang tidak bisa baca tulis. Sungguh… ini adalah firman Allah Swt. Firman terakhir bagi kita manusia modern yang mengangungkan iptek dan fakta ilmiah. Mukjizat terakhir sebelum kiamat.

Source : Islampos

Minggu, 09 Maret 2014

Bosan Jadi Baik

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

SAYA bosan menjadi orang baik!
Pernahkah Anda membatin atau bahkan mendeklarasikan pernyataan demikian? Saya pernah. Mungkin, saya bersembunyi di balik modus normalitas sebagai manusia biasa merasakan demikian. Terkadang, kebosanan muncul tanpa diundang. Dan bosan itu adalah kebosanan menjadi orang baik.
Gawat, memang, saya akui. Ada setidaknya dua hal yang menjadi konsekuensi sekaligus latar belakang yang membersamai hal ini. Pertama, kita merasa telah menjadi orang baik. Positifnya hal ini tentu ada. Hadir semangat dan kepercayaan dalam diri untuk menjadi orang baik. Negatifnya, perasaan sudah menjadi orang baik teradang akan menutup pintu perbaikan diri. Ada nuansa keangkuhan dalam diri yang menyeret pada perasaan keengganan untuk menerima saran perbaikan dari eksternal atau membiarkan hati menelusur untuk sendirinya memperbaiki dan memuhasabahi diri.
Kedua, term bosan menjadi orang baik bakal mengaruskan individu tersebut ke arah kontra dari status quo yang tengah dijalaninya. Itu berarti, ada rasa dalam diri menginginkan untuk keluar dari lajur kebaikan. Sebagai permisalan, orang yang terbiasa bahkan selalu berupaya jujur di lingkungan kerjanya. Suatu ketika, saking suck-nya dengan lalu lintas korupsi di tempat kerja yang lancar jaya, ia berbalik. Rasa sia-sia menjadi orang jujur, rasa kecewa lantaran hanya ia seorang diri yang jujur, atau rasa merugi yang terus menggelayuti akhirnya mengalahkan idealisme kejujuran yang telah lama dibangun. Hal ini bisa dan mungkin saja terjadi pada kita atau siapa saja.
Adalah kewajaran memang munculnya rasa bosan. Tidak hanya bosan dengan keadaan dan aktivitas yang kerap menjadi rutinitas. Bosan menjadi orang baik pun mungkin saja muncul, menyapa, hinggap, atau hanya lewat sekelebat.
Yang menjadi intinya adalah penyikapan dari rasa bosan tersebut. Sangat baik bila kita memiliki langkah atau hal preventif yang menghindarkan diri kita dari kebosanan tersebut. Salah satu yang terbersit dalam pemikiran saya yakni bergabung dalam komunitas kebaikan. Adalah sangat benar dan terbukti bahwa adanya komunitas kebaikan itu sangat berarti dan penting. Pertama, kita dilihat dari di mana kita berada. Lingkungan dan rekan bergaul kita menjadi cerminan terdekat diri kita. Kedua, adanya komunitas menjadi sarana penguat dan pengingat kita. Saling menasihati menjadi budaya yang semestinya menglir lancar dalam komunitas tersebut jika menghendaki langkah preventif terhadap rasa bosan menjadi orang baik tersebut.
Di samping langkah preventif, ada pula hal yang perlu kita jadikan sebagai sarana represif (pengobatan). Mengingati, menginsafi, dan mengevaluasi idealisme awal diri bisa menjadi awalan yang baik kala rasa bosan itu hinggap. Selain itu, kita juga dapat merenungi perjalanan hidup para maestro seperti para ulama, ilmuwan, sahabat Nabi atau bahkan Nabi sendiri dalam menjaga konsistensi menjadi orang baik.
Terus mengupayakan konsisten dalam kebaikan juga menjadi tonggak yang penting. Alih-alih su’ul khotimah yang diraih meski sebelumnya telah menjejaki jalan kebaikan namun sekalinya tergoda untuk beralih jalur dan justru dalam keadaan fujur kita berakhir. Na’udzubillah.
Orang baik juga tak mungkin seorang diri. Sebutlah, Musa a.s . yang bersamanya ada Harun a.s. Sebut pula Muhammad bin Abdullah yang bersamanya ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan banyak lagi. Karena menjadi orang baik itu tidak bisa seorang diri. Dibutuhkan partner yang membersamai..

Source : Islampos